Minggu, 02 Oktober 2016

#SIP Etika dalam menulis online



Sebelum kita mengetahui apa saja etika dalam menulis online ada baiknya kita mengerti apa itu etika? Menurut Sulianta (2007) istilah etika tampaknya tidak asing, etika pun ternyata didapati dalam dunia cyber. Etika, suatu batasan yang tipis, meskipun tidak memiliki kekuatan yang sedemikian mengekang dan tegas dibandingkan hukum, etika dapat amat berperan dengan baik dalam mengatasi maraknya pelanggaran hak cipta, karena etik merupakan suatu pedoman yang mengisi individu. Individu tersebutlah yang seharusnya sadar beretika dan masyarakat akan menjadi parameter apakah seseorang telah menerapkan etika atau tidak. Meskipun etika berinternet sudah demikian dikalangan netizen (masyarakat cyber), tetapi masih sangat minimnya etika berkenaan penggunaan internet konten, karena netizen  dengan begitu saja mengambil informasi dan data yang terbilang sebagai kekayaan intelektual  yang bahkan digunakan untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk kepentingan pribadi ataupun untuk tujuan komersial

Hadi (2006) mengatakan ketidaksadaran akan adanya etika tidak tertulis dalam berinternet dan kekurang dewasaan dalam penggunaan email, chatting, dan mailing list dapat menyeret para penggunanya kepada situasi yang tidak sehat jika salah satu pihak tidak mengerti budaya diinternet. Untuk itu di butuhkan sebuah petunjuk yang biasa dikenal dengan sebutan Netiquette atau yang diterjemahkan kebahasa Indonesia Netiket.
Terdapat beberapa defenisi tentang netiquette, yaitu:
  • Etika dalam menggunakan Internet  
  • Aturan-aturan/kebiasaan/etika/etiket umum yg berlaku di seluruh dunia, sehingga para pelaku internet dapat dengan nyaman dalam berinteraksi di dunia maya ini
Beberapa alasan mengenai pentingnya etika dalam dunia maya adalah sebagai berikut:
  • Bahwa pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mungkin memiliki budaya, bahasa dan adat istiadat yang berbeda- beda.    
  • Pengguna internet merupakan orang–orang yang hidup dalam dunia anonymouse, yang tidak mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi.
  • Pengguna internet merupakan orang–orang yang hidup dalam dunia anonymouse, yang tidak mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi.
  • Berbagai macam fasilitas yang diberikan dalam internet memungkinkan seseorang untuk bertindak etis seperti misalnya ada juga penghuni yang suka iseng dengan melakukan hal – hal yang tidak seharusnya dilakukan.
  • Harus diperhatikan bahwa pengguna internet akan selalu bertambah setiap saat dan memungkinkan masuknya “penghuni” baru di dunia maya tersebut.
Selanjutnya kita masuk kepembahasan etika menulis online. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis online yang berhubungan dengan etika menurut WebWise Team (2012):
  • Menahan diri dari pelecehan pribadi. Anda dapat mengekspresikan ketidaksetujuan yang kuat dengan apa yang dikatakan seseorang, tapi jangan memanggil nama mereka atau mengancam mereka dengan kekerasan pribadi.
  • Jangan spam. Artinya, tidak berulang kali mengirim iklan yang sama untuk produk atau jasa. Sebagian besar situs memiliki aturan ketat dan spesifik tentang siapa yang diizinkan untuk mengirim iklan dan jenis iklan mereka.
  • Menulis dengan jelas dan ringkas. Di situs yang memiliki asing, hindari menggunakan bahasa gaul mereka mungkin tidak mengerti.
  • Ingat bahwa posting anda adalah publik. Mereka dapat dibaca oleh pasangan anda, anak anda, orang tua anda, atau atasan anda.
  • Tetap ditopik, terutama ketika anda baru jadi penulis. Jangan posting tentang sepak bola di forum perawatan rambut atau sekitar perawatan rambut di forum berkebun!
  • Jangan berharap orang lain untuk melakukan pekerjaan rumah anda untuk anda. Jika anda sedang mencari bantuan teknis, misalnya, tidak mengajukan pertanyaan anda bisa dengan mudah menjawab sendiri dengan membaca bantuan manual atau online yang disediakan dengan produk. Ketika anda meminta bantuan, termasuk rincian dari apa yang telah anda mencoba dibuat untuk memecahkan masalah. Ini akan menghemat waktu dan juga menunjukkan orang yang anda membuat upaya untuk membantu diri anda sendiri.
  • Jangan posting materi berhak cipta yang anda tidak memiliki hak. Situs bervariasi dalam bagaimana ketat mereka tentang hal ini, tetapi juga menghadapi kemungkinan tindakan hukum oleh pemegang hak, anda mungkin juga mendapatkan situs digugat.
  • Pemilik situs, mungkin dibantu oleh satu atau lebih moderator, memiliki kata akhir dalam menegakkan aturan. 
Penulis yang akan menuliskan tulisannya haruslah memiliki beberapa kode etik diantaranya menurut Saukah (2000), ada beberapa etika dalam penulisan:
  • Melahirkan karya orisinal, bukan jiplakan, penulis haruslah jujur dalam menuliskan tulisannya. Berbohong dalam berita atau informasi yang dituliskan adalah salah satu pelanggaran etika dalam menulis baik itu tulisan online maupun offline.   
  • Menjaga kebenaran dan manfaat serta makna informasi yang disebarkan sehingga tidak menyesatkan.
  • Menulis secara cermat, teliti, dan tepat.
  • Memberi manfaat kepada masyarakat pengguna.
  • Menyadari sepenuhnya untuk tidak melakukan pelanggaran
Maharani (2015) terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan tentang etika dan kode etik dalam penulisan pada sebuah media adalah sebagai berikut : 
  • Gunakan bahasa yang sopan, baik dan benar, gunakanlah bahasa yang sopan pada saat menulis sebuah artikel atau berita di sebuah media online. Karena internet tersambung dengan akses yang mencakup seluruh dunia. Dimana artikel atau berita yang kita muat pada internet dapat dibaca oleh siapapun dari berbagai kalangan masyarakat di seluruh dunia. Apabila kita tidak menggunakan bahasa yang sopan maka cara pandang seseorang terhadap kita akan berdampak buruk pada pribadi serta lingkungan kita sendiri. Janganlah menyingkat sebuah kata dalam pengetikan suatu artikel. Seperti kata “yang” disingkat menjadi “yg”, “kepada” menjadi “kpd dan lain sebagainya. Hal itu hanya membuat pusing seseorang yang membaca artikel kita 
  • Gunakan huruf kapital (capslock) seperlunya, gunakanlah huruf capital pada penulisan seperlunya. Karena jika kita menuliskan dengan menggunakan huruf kapital secara dominan, kata yang tertulis dapat berarti lain bagi seseorang yang membacanya. Sebaiknya tulislah berita atau artikel dengan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif. Karena pembaca sangat tertarik terhadap suatu artikel atau berita yang ditulis secara komunikatif. Bahasa yang baik dan benar pun memudahkan pembaca mengerti maksud dan inti dari sebuah berita yang disampaikan oleh kita sebagai penulis.
  • Menggunakan EYD yang sesuai, selain menggunakan bahasa yang sopan, penulisan dalam media pun harus menggunakan EYD yang sesuai. Dikarenakan penulisan yang menggunakan EYD secara yang sesuai pun dapat memudahkan pembaca untuk mengerti inti dari sebuah tulisan yang kita tulis. Dan juga dapat memberikan kesan yang positif terhadap pribadi si penulis. Tak jarang sebuah tulisan di media online digunakan untuk referensi tulisan bagi seseorang. Jadi jika sebuah artikel yang di tulis tidak memperhatikan EYD dengan baik sebagus apapun isi dari artikel tersebut orang lain tidak akan menjadikannya sebagai referensi.

Kesimpulan:
Maka saya menarik kesimpulan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menulis online yaitu etika dalam menulis online. Hal ini dilakukan agar terhindar dari berbagai konflik seperti plagiat, menulis hal-hal yang tidak wajar dan juga hal-hal yang dapat merugikan pihak lain. Sebelum anda menulis online ada baiknya anda melihat etika-etika apa saja yang perlu diperhatikan dalam penulisan anda, agar penulisan ada terlihat lebih rapi, menarik serta tidak merugikan pihak manapun.  

Daftar Pustaka:
Hadi, N. (2006). Etika berkomunikasi di dunia maya dengan netiquette. Jurnal Pendidikan Matematika FMIPA UNY, 1, 341-362.
Maharani, S. Etika-etika dalam menulis artikel online. Diakses melalui http://sarah-maharani.blogspot.co.id/2015/10/sip-etika-etika-dalam-menulis-artikel.html. Pada tanggal 11 Oktober 2015. 
Saukah, A. (2000), Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sulianta, F. (2007). Konten Internet. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Jakarta. 
WebWise Team. What is netiquette?. Diakses melalui http://www.bbc.co.uk/webwise/guides/about-netiquette. Pada tanggal 10 Oktober 2012.


  

Selasa, 12 Januari 2016

Psikologi Manajemen



HUBUNGAN SIKAP PIMPINAN DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PASAMAN BARAT


I.                   PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu sistim yang terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain dalam melaksanakan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, setiap komponen-komponen hendaklah menjaganya satu sama lain agar pelaksanaan fungsinya berjalan dengan lancar dan tujuan organisasi dapat tercapai. Peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan yang diselenggarakan dalam suatu organisasi mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Organisasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang mempunyai peran masing-masing sesuai dengan fungsinya. Sistem ini melibatkan orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Penyelenggaraan organisasi melibatkan berbagai komponen seperti pimpinan, karyawan, pegawai, sarana dan prasarana organisasi lainnya. Setiap komponen mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing untuk mewujudkan tujuan organisasi. Komponen tersebut saling berhubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Kepuasan kerja merupakan salah satu aspek psikologis yang ikut mempengaruhi prilaku pegawai dalam melakukan aktivitasnya. Kepuasan kerja sangat penting bagi pegawai karena kepuasan kerja yang dirasakan oleh pegawai akan berdampak terhadap pekerjaan dan kualitas kerjanya. pegawai yang merasa senang dan puas dengan pekerjaannya tentu ia akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan kepuasan yang sama atau lebih sehingga akan berdampak positif terhadap hasil kerjanya. Sebaliknya, apabila pegawai tidak senang atau puas, maka ia akan mengabaikan pekerjaannya, sehingga berdampak negatif terhadap hasil kerjanya. Kepuasan kerja sangat dipengaruhi oleh diri pribadi orang itu sendiri serta keadaan lingkungan dia bekerja. Davis dan Newstrom dalam Husaini (2008:465) menyatakan bahwa “kepuasan kerja adalah suatu kesenangan atau ketidak senangan terhadap pekerjaan yang dipilihnya dan kepuasan itu bersifat dinamis atau berubah-ubah”. Sedangkan Robbins (2006:108), mengemukakan bahwa “ketidakpuasan karyawan dapat diungkapkan dalam sejumlah cara, misalnya dari pada mengundurkan diri, karyawan dapat mengeluh, menjadi tidak patuh, mencuri property organisasi atau menghindari sebagian tanggung jawab mereka”. Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa indikator dari kepuasan kerja adalah perasaan senang dalam bekerja, perasaan lega dalam bekerja, dan perasaan tidak mengeluh dalam bekerja.

Sehubungan dengan meningkatkan kepuasan kerja pegawai, seorang pimpinan harus memperhatikan faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja  pegawai. Menurut Hasibuan (2005:203) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja pegawai adalah:
(1) balas jasa yang adil dan layak,
(2) penempatan yang tepat dan sesuai keahlian,
(3) berat ringannya pekerjaan,
(4) suasana dan lingkungan pekerjaan,
(5) peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan,
(6) sikap pimpinan dalam kepemimpinannya.

Dari pendapat ahli diatas, maka salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah “sikap pimpinan”. Keharmonisan hubungan para pegawai dengan adanya sikap yang baik dari pimpinan yang ditunjukkan ketika memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh pegawai, ketika memberikan informasi yang baru, mengajak, memberi perintah, mengatur, menggerakkan, membimbing, menegur, dan lain-lain. Aktvitas pimpinan harus di imbangi dengan kemampuan dan keterampilan serta sikap yang tepat.  Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk melihat tentang kepuasan kerja pegawai dan sikap pimpinan serta hubungan sikap pimpinan dengan kepuasan kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat.

II.                METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan berbentuk korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai pada Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat, sebanyak 62 orang. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik stratified proportional random sampling,  sehingga diperoleh sampel sebanyak 45 orang.  Instrumen penelitian ini dengan menggunakan angket model Semantic Defferensial dan Skala Likert dengan lima alternatif jawaban dan telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data di analisis dengan rumus rata-rata (mean).

III.             PEMBAHASAN
Sikap pimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat dari sebaran skor dapat diketahui bahwa skor kategori kelompok sikap pimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat berada pada tingkat ketercapaian cukup. Jika dikaitkan dengan tingkat ketercapaian angket, setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh skor variabel kelompok sikap pimpinan berada pada tingkat ketercapaian 75,79% (cukup). Ini menunjukkan bahwa sikap pimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat dalam hal sikap pimpinan dalam mengambil keputusan, sikap pimpinan dalam berkomunikasi, dan sikap pimpinan dalam memberikan keteladanan belum baik (cukup).
Hal ini disebabkan karena pimpinan kurang ramah dalam berkomunikasi dan sikap acuh tak acuh serta banyaknya tugas yang diemban oleh pimpinan, sehingga pegawai merasa tidak diperhatikan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sikap pimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat masih tergolong cukup, hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Indrawijaya (1998:41), mengemukakan bahwa “faktor yang mempengaruhi sikap adalah bahwa sikap seseorang merupakan perpaduan antara pengalaman masa lampaunya dengan lingkungan masa kini.
Pengalaman masa lampau ditentukan oleh adanya aspirasi, nilai kerja dan pengaruh budaya kelompok. Sedangkan pada faktor kedua yaitu lingkungan masa kini yang sangat ditentukan sekali oleh pengaruh lingkungan, pengaruh budaya, pengaruh kelompok, dan nilai-nilai kerja serta aspirasi”. Sebagai seorang pemimpin penting sekali memiliki sikap yang baik yang dapat dilihat oleh pengikutnya, karena hal itu dengan sendirinya akan menjadi daya tarik dari seorang pemimpin. Di dalam kebanyakan situasi pemimpin menarik orang-orang yang memiliki kualitas yang sama dengan dirinya.
Pemimpin adalah seorang panutan dan pemimpin adalah orang yang mampu memberikan asumsi dan motivasi serta jalan yang pasti dan setidaknya benar kepada orang/kelompok yang dipandunya. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk memiliki sikap positif karena dengan sikap yang demikian akan menjadikan seorang pemimpin lebih tangguh, lebih kuat, dan juga memiliki pikiran yang positif dalam menghadapi persoalan yang dihadapi dan yang lebih penting bahwa pemimpin pasti mempengaruhi para bawahannya, dengan memiliki sikap yang baik makapemimpin pun akan menarik orang-orang untuk bersikap baik, demikian pula sebaliknya. Jadi pemimpin secara tidak langsung pasti mempengaruhi bawahannya.

ANALISIS

Berdasarkan analisis kelompok kami hasil penelitian dan pengujian hipotesis tentang Hubungan Sikap Pimpinan dengan Kepuasan Kerja Pegawai di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat, dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat, cukup dalam melaksanakan tugasnya. Sedangkan sikap pimpinan di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat berada pada kategori cukup. Terdapat hubungan yang berarti antara Sikap Pimpinan dengan Kepuasan Kerja Pegawai di Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat.
Seiring dengan kesimpulan di atas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat untuk dapat lebih memperbaiki sikap terhadap kepuasan kerja pegawai agar tujuan yang diharapkan lembaga benar-benar sesuai dengan keinginan atau harapan masyarakat dan juga untuk kemajuan lembaga yang lebih baik lagi, bagi pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Barat di harapkan kepuasan kerjanya dapat ditingkatkan untuk baik lagi Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan motivasi kepada diri sendiri yakni dengan memperbaiki cara kerja, semangat dalam bekerja, harapan pribadi, keinginan dan kepuasan kerja.

 Daftar Pustaka: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=101316&val=1537

Nama   : D. Puspa Pane
Kls       : 3PA08
Klmpk  : Biru

Selasa, 29 Desember 2015

Psikologi Manajemen



Job Enrichment
Definisi Job Enrichment
      Pengayaan Pekerjaan (job enrichment) merupakan penambahan pekerjaan melalui peningkatan kewenangan. Dalam pengayaan pekerjaan, pekerjaan tertentu menjadi lebih besar tanggung jawabnya, biasanya dikaitkan dengan proses perencanaan maupun evaluasi pekerjaan (Dian Wijayanto, 2012, p144). Job enrichment adalah mengacu pada pengembangan vertikal dari pekerjaan. Penambahan ini meningkatkan sejauh mana pekerja itu mengendalikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari kerjanya. Suatu pekerjaan yang diperkaya mengorganisasi tugas-tugas sedemikian sehingga memungkinkan pekerjaan itu untuk melakukan kegiatan lengkap, menigkatkan kebebasan dan ketidak tergantungan karyawan itu, meningkatkan tanggung jawab dan memberikan umpan balik sehingga seorang individu akan mampu menilai dan megoreksi kinerjanya sendiri (Stphen P.Robbins, 2003, p237). Berbeda dengan job enlargement, job enrichment memberikan karyawan tidak hanya lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan tetapi juga lebih banyak tugas untuk tampil di tingkat yang lebih tinggi keterampilan dan tanggung jawabnya. Job enrichment memberikan karyawan kesempatan untuk mengambil kontrol yang lebih besar atas bagaimana untuk melakukan pekerjaan mereka. Karena orang-orang melakukan pekerjaan yang diperkaya telah meningkatkan kesempatan untuk bekerja pada tingkat yang lebih tinggi, proses pengayaan pekerjaan dikatakan untuk meningkatkan position’s vertical job loading (Greenberg dan Baron, 2003, p213). 

Pengaruh Dimensi Pekerjaan Inti Bagi Job Enrichment
     Ada lima dimensi inti dari sebuah pekerjaan yang mempengaruhi job enrichment biasanya memberikan kontribusi kepada orang-orang yang menikmati pekerjaan menurut Greenberg dan Baron (2003, p214-215):
  • Skill Variety – Meningkatkan jumlah individu keterampilan yang digunakan ketika melakukan pekerjaan.
  • Task Identity – Mengaktifkan orang untuk melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir.
  • Task Significance – Memberikan pekerjaan yang memiliki dampak langsung terhadap organisasi atau para stakeholder.
  • Autonomy – Meningkatkan tingkat pengambilan keputusan, dan kebebasan untuk memilih bagaimana dan ketika pekerjaan selesai.
  • Feedback – Meningkatkan jumlah pengakuan untuk melakukan pekerjaan dengan baik, dan mengkomunikasikan hasil karya orang. Dimensi utama dalam tugas mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job enrichment tergantung oleh kekuatan karyawan untuk berkembang dan berpikir positif. 

Design Job Enrichment
      Begitu banyak pekerjaan sangat membosankan dan monoton dan apa yang dapat di lakukan untuk membuat pekerjaan yang ditawarkan lebih memuaskan, dengan mengurangi biaya perekrutan, meningkatkan retensi staff yang berpengalaman dan memotivasi mereka untuk tampil di tingkat yang tinggi. Salah satu faktor kunci dalam design pengayaan pekerjaan (job enrichment) menurut Stphen P. Robbins (2003, p237) adalah
  • Menggabungkan Tugas 
Gabungan berbagai bentuk aktivitas kerja untuk memberikan yang lebihmenantang dan kompleks pada tugas pekerjaan. Hal ini memungkinkan pekerja untuk menggunakan berbagai macam keterampilan, variasi tugas yang dapat membuat pekerjaan terasa lebih bermakna dan penting. Hal ini meningkatkan keanekaragaman dan identitas tugas 
  • Menciptakan Unit Kerja Alami 
Salah satu cara memperkaya pekerjaan adalah melalui pembentukan unit kerja yang alami dimana pegawai mendapatkan kepemilikan pekerjaan. Unit kerja berarti bahwa tugas pekerja dilakukan sama, mengartikan dan mengidentifikasi seluruhnya. Kenaikan pekerjaan pada setiap pekerja menunjukkan kemungkinan bahwa pekerja akan meninjau pekerjaannya yang berarti dan penting yang tidak begitu relevan dan membosankan
  • Menampilkan Hubungan Pelanggan 
Pekerja sangat jarang kontak dengan pengguna produk ataupun jasanya. Jika hubungan tersebut dapat dibangun, komitmen kerja dan motivasi biasanya akan meningkat. Hal ini meningkatkan keanekaragaman otonomi, dan umpan balik bagi karyawan
  • Memperluas Pekerjaan Vertikal 
Ketika kesenjangan (gap) antara “melakukan” dan “mengontrol” dikurangi “vertical loading” terjadi, khususnya tanggung jawab yang sebelumnya merupakan tanggung jawab manajemen sekarang didelegasikan kepada pegawai sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Ketika pekerjaan dibebani secara vertikal, otonomi naik, pekerja merasa tanggung jawab personal dan akuntabilitas untuk outcomes/dampak dari usaha mereka.
  • Membuka saluran Feedback
Dengan meningkatkan umpan balik, pekerja tidak hanya belajar bagaimana sebaiknya mereka menyamakan pekerjaannya, tetapi hanya dengan memeperbaiki kinerja mereka, memperburuk atau mengulang pada tingkat yang tetap. Idealnya umpan balik ini menyangkut kinerja yang dapat diterima langsung seperti pekerja melakukan pekerjaannya dan perlu kebiasaan dasar manajemen. Job Enrichment bukan tanpa resiko, mereka yang melakukannya tanpa determinasi untuk melakukannya dengan benar makan akan gagal. Untuk itu faktorfaktor diatas juga diperlukan untuk mempertimbangkan bagaimana karyawan dapat menjalankan tanggung jawab tugasnya dengan baik.

Ciri-ciri Job Enrichment
Adapun ciri-ciri dari Job Enrichment adalah sebagai berikut
  • Sifat dasar pekerjaan: job enrichment merupakan sebuah pengembangan perluasan kerja yang bersifat vertikal. Para pekerja diberikan sejumlah pekerjaan, yang memerlukan tingkat pengetahuan, kemampuan dan tanggung jawab yang besar. Job enrichment meningkatkan kualitas kerja.
  • Hasil positif: job enrichment memberikan hasil yang positif apabila para pekerjanya sangat terampil. Hal ini dikarenakan para pekerja diberikan sejumlah kesempatan untuk menunjukkan inisiatif dan inovasi saat melakukan pekerjaannya.
  • Arahan dan kontrol: job enrichment menganjurkan / mendorong kedisiplinan pribadi. Job enrichment tidak mempercayai arahan dan control dari luar.
Analisis dan kesimpulan:
      Job enrichment adalah memperluas rancangan tugas untuk memberi arti lebih dan memberikan kepuasan kerja dengan cara melibatkan pekerja dengan pekerjaan perencanaan, penyelenggaraan organisasi dan pengawasan pekerjaan sehingga job enrichment bertujuan untuk menambah tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, menambah hak otonomi dan wewenang merancang pekerjaan dan memperluas wawasan kerja. Job enrichment dapat meningkatkan otonomi seseorang dalam mengatur pekerjaannya. Misalnya seorang petugas di dalam melakukan pekerjaannya sebelum diatur oleh suatu prosedur yang ketat, di mana dia tidak di berikan wewenang atau hak untuk memilih metode yang dia anggap paling efektif, untuk memilih bahan-bahan yang di butuhkan, atau untuk mengatur pekerjaannya. Perubahan ini akan memberikan tantangan yang lebih besar bagi dia dan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja dan produktifitasnya.

Sumber: file:///C:/Users/compaq/Documents/Jurnal%20Skripsi%202013/PersamaandanPerbedaan-antara-Job-Enlargement-dan-Job-Enrichment.htm diakses tanggal 3 April 2013)